----- Original Message -----From: iwan piliangSent: Tuesday, May 27, 2008 9:24 AMSubject: [mediacare] Ada honor menulisAdakah jurnalis yang independen yang mau menulis literair tentang laku jurnalis dalam Pilkada, khususnya d Riau saat ini. Karena dalam prinsip jurnalisme, wartawan jelas berpihaknya kepada warga, bukan mendukung calon-calon pejabat.
Silakan buat tulisan panjang, deskriptif, honor Rp 600/kata (tentu tetap kami edit, tanpa mengurangi bobot isi, makna). Kalau bisa minimal 3.000 kata?
Jika ada hasil tulisannya akan kami muat di www.presstalk.info , sekaligus sebagai bahan pencerahan bagi kajian media dan jurnalisme.
wassalam,
iwan piliang
08128808108
ekka pn <ekkapn2003@yahoo.com > wrote:
Suhu politik di Riau saat ini sedang hangat2nya, khususnya menjelang Pilgub dalam beberapa bulan mendatang. Mungkin ini menjadi faktor pertimbangan kenapa persoalan hilangnya kucing ini "kurang diminati" para jurnalis lokal.
Hehehe, Rusli Zainal, sang incumbent, adalah calon kuat yang konon banyak mendapat dukungan masyarakat.
demikian Pak Iwan,
terimakasih atas tanggapan Bapak2/Ibu2 jurnalis sekalian.
salam,
ekk.
iwan piliang <iwan.piliang@yahoo.com > wrote: Jumat, 23 Mei 2008
Peliharaan & Kucing Isteri Gubernur
SABAN kali bila tak buru-buru melewati kawasan sekitar Jembatan Latuharhari, Menteng Jakarta Pusat, saya berhenti. Di dekat taman di pinggir-pinggir jalan menuju ke kawasan utama bilangan Menteng, Jakarta Pusat, itu berderet penjual anjing, kucing, hewan peliharaan. Ada anakan anjing ras, mulai dari Poodle, Doberman, Anjing Gembala Jerman, Dalmation, Chihuahua, Great Dane, hingga anakan anjing kampung. Satu dua ekor kucing Angora dan Persia juga ada.
Khusus anak Dalmation - - putih totol-totol hitam itu - - saya pernah tertipu. Ceritanya ada anak "Dalmation" bagus. Saya mampir dan menawar di harga Rp 500 ribu. Bila yang bersertifikat di pet shop, bisa berharga lebih dari Rp 3 juta. Eh setelah dua hari di rumah, ternyata totol yang ada di badan anak anjing itu luntur. Setelah beberapa kali dimandikan, badannya mulus memutih.
Di kawasan itu pula, bukan saja anakan anjing, sosok anjing dewasa juga ada. Anjing besar ini bila lamat-lamat diperhatikan, matanya sering menghiba. Beberapa di antaranya seakan bertutur, mereka sedih berpisah dari tuan pemiliknya. Anjing dewasa itu, dari verifikasi yang pernah saya lakukan, memang ada yang dijual pemilik, karena enggan memeliharanya lagi - - alasan ekonomi, juga alasan mengotori rumah. Sebaliknya ada pula anjing hasil olahan "sindikat" pencoleng binatang peliharaan. Mereka melegonya di kawasan itu.
Dari mata anjing-anjing dewasa itu tampak jelas rasa kehilangan. Suaranya terkadang merengek sedih. Menatap mata anjing demikian, membuat saya melamun ke masa kecil dulu ke kampuang nan jauah di mato.
Di kampung kami, anjing berguna untuk berburu babi. Anjing sehari-hari hanya diberi makan nasi putih ditambah air putih. Sesekali, kami memberikan susu kental manis yang sudah diencerkan air. Jika hendak berburu babi, biasanya anjing itu baru diberi daging - - lebih ideal jika ada daging babi atau darah babi. Nah anjing-anjing itu bila sudah ditengah hutan dilepas. Mereka memang menjadi kalap memburu babi, karena selama ini hanya bermakan-kan nasi berair-tawar.
Sewaktu kecil, saya pernah mengamati berburu babi dari jauh. Kami anak-anak tak boleh turut ke tengah hutan lebih jauh. Konon masih banyak binatang buas. Paling tidak ular berbisa siap menanti.
Akan halnya anjing-anjing di kawasan Latuharhari, Menteng itu, saya pernah pula menelusuri. Rombongan anakan anjing itu bila petang merembang dimasukkan ke gerobak. Mereka ditempatkan ke dalam kerangkeng kecil-kecil, lalu ditata di dalam gerobak. Gerobak kemudian ditutup terpal dan pedagangnya memarkirkan gerobak itu di kawasan di tepi alan Sultan Agung, Jakarta Selatan - - sekitar 500 meter berjalan kaki dari lokasi berjualan.
Malam hari gerobak berisi anjing diikat melalui gembok ke sebuah pagar kawat. Dan bila Anda berjalan melalui gerobak itu, rengekan anak-anak anjing yang menghiba terdengar sayup-sayup, bagaikan sesosok bayi merengek-tetek.
Bila di saat hujan mengguyur, mata saya selalu memperhatikan gerobak anjing itu. Hampir tak ada yang mau mendengar dan menoleh, apalagi jalanan yang sedang ditingkah macet, suara mobil terlebih motor, tor, tor, tor. Suara rengekan anak-anak anjing hilang disaput kesibukan Jakarta.
Dalam sebulan terkahir ini saya tak melihat lagi gerobak anjing di pinggir jalan Sultan Agung. Seiring dengan proyek pemekaran Kali Ciliwung, pagar besi di jalanan dibabat habis - - sebagain sebelum dibongkar, pagar itu memang sudah disikat pemulung setidaknya 340 cm2 perhari.
Semak, pepohonan dan belukar yang diterabas di pinggir kali, membuat celah bersembunyi bagi gelandangan berteduh membunuh malam sirna. Seingat saya salah satu pedagang anjing itu adalah sosok anak muda yang mukim di kolong jembatan di pinggir Sultan Agung. Kini entah ke mana pindahnya?
Pernah suatu ketika ia tampak memiliharia seekor anjing kampung berbulu coklat. Ia sudah semacam pengawal bagi anak-anak anjing yang diperdagangkan. Suatu hari sekitar enam bulan lalu, anjing itu dibiarkan lepas. Bulunya sudah kusam, badannya kurus. Dan tetap setia menemani pedagang anjing itu pulang-pergi. Hubungan mereka karib.
Sulit memang mengungkap bagaimana hubungan sesorang dengan anjing dan atau kucing peliharaannya. Ia menjadi sangat personal, ia menjadi kisah batin yang sulit diceritakan dengan kata semata.
Ibu saya penggemar kucing. Semuanya bernama. Jika kucingnya terlambat pulang, ibu tak sungkan berteriak ke segenap lingkungan RT memanggil-manggil nama si kucing. Entah mengapa kucing itu pun paham, dari jauh ia sudah berlari, lalu menciumi kaki ibu saya, kendati terkadang, bulunya kotor setelah melewati comberan becek dan bau.
Ketika pernah menulis reportase panjang tentang anjing ras untuk majalah Matra pada 1985, saya berkesempatan menemui Anton Soedjarwo, kala itu Kapolri. Di kediamannya di Kemang, Jakarta Selatan, Anton memelihara Herder, Doberman, Great Dane. Juga ada seekor Saint Bernard, ras keturunan Eropa yang terbiasa hidup di udara di bawah nol derajat.
Saya perhatikan kala itu Saint Bernard yang berbulu lebat, kokoh tinggi, itu menunduk-nunduk, mencari-cari kolong-kolong kursi yang lebih dingin lantainya. Walaupun AC di rungan tamu Anton kala itu sudah 16 derajat celcius, anjing itu masih merasa kepanasan.
Saya tanya kepada Anton, mengapa membawa anjing itu ke dearah tropis?
"Anjing jenis ini, adalah sosok penyelamat. Di daerah aslinya, jika ada pemain ski yang terjatuh atau tertimbun salju, Saint Bernard yang dilehernya dikalungkan minuman hangat beralkohol, mampu mengendus korban. Ia bisa menyodorkan minuman di lehernya sebagai bentuk pertolongan pertama."
Alamarhum Anton Soedjarwo begitu bersemangat bicara soal Saint bernard kala itu. Sosok yang sulit bertemu wartawan berlama-lama itu, siap sedia bicara sepanjang hari asal ihwal anjing. Anton pula yang memberi latar saya bahwa ada asosiasi anjing ras, ada salon, ada dokter, ada makam anjing seperti yang di Pasar Minggu Jakarta Selatan.
Pokoknya beragamlah cerita ihwal anjing, kucing, binatang peliharaan, yang membuat berhalaman-haaman cerita bisa dituliskan.
DARI situs Riauterkini di internet saya mendapatkan berita hari ini:
Pada halaman 10 Harian Riau Pos edisi Kamis (22/5) terdapat sebuah iklan yang cukup menarik. Tidak sekedar karena isinya lain dari pada yang lain, tetapi juga karena dalam iklan tersebut juga dilengkapi gambar dua ekor kucing. Iklan itu menjadi semakin menarik karena yang memasang bukan orang sembarangan, melainkan istri orang nomor satu di provinsi ini, istri Gubernur Riau M Rusli Zainal yang bernama Septina Primawati Rusli.
Ceritanya Setpina kehilangan seekor kucing ras Anggora jantan. Kucing itu sangat disayanginya, sehingga saat kehilangan ia kelabakan. Berusaha mengerahkan siapa saja untuk membantu menemukan kembali, dan ketika tak ditemukan, akhirnya memasang iklan di harian terbesar di Riau tersebut.
Bunyi iklan unik itu adalah: "Telah Hilang Seekor Kucing Anggora Jantan Berbulu Coklat Muda pada Hari Ahad (18/5) sekitar pukul 1.30 WIB di sekitar Jalan Petalabumi dan HR Thamrin. Kepada yang Menemukan Diharap Menghubungi Suryani dengan nomor HP 0811761110. Bagi yang Menemukan akan Mendapat Imbalan Selayaknya"
Ketika riauterkini mencoba menghubungi Suryani yang merupakan asisten pribadi Septina, ia hanya mengangkat sebentar. Setelah bertanya ada apa, lantas kembali menutup telephon. Sementara salah seorang wartawan yang mengirim SMS kepadanya menanyakan apakah kucing yang hilang sudah ditemukan, Suryati membalas pendek "bln" atau belum.
Riauterkini lantas mencoba mendapat informasi kepada bagian iklan Riau Pos melalui salah seorang bagian iklan bernama Tasmin. Melalui SMS Tasmin lantas menjelaskan bahwa iklan dengan jenis dan ukuran seperti pengumuman kehilangan kucing di halaman 10 itu tarifnya sebesar Rp 6.930.000 dengan perhitungan setiap milimeter seharga Rp 20.000 ukurannya 3x150x20.000= Rp 6.930.000.
Artikel di atas sempat menjadi berbalas debat di sebuah milis. Iklan yang dipersoalkan, membandingkan dengan harga-harga kebutuhan pokok yang kini menajam naik.
Jika saya berada di Pekanbaru, Riau, dan jika dimungkinkan, saya akan mencari jalan untuk mereportase isteri Gubernur Riau yang kehilangan kucing Angora-nya itu. Saya yakin pastilah menjadi sebuah cerita, sebuah reportase literair yang dahsyat. Pastilah hubungan Ibu Gubernur dan kucing itu sulit diungkap kata, menjadi sebuah nilai yang tak berhingga.
Bisa menjadi cerita, yang juga menjadi pembelajaran, juga sealigus pendidikan, paling tidak menggugah rasa perikebinatangan - - bila peri kemanusiaan pun belakangan mengalami degradasi.
Media kini tidak lagi banyak memberi tempat kepada reportase literair, atau minimal features. Apalah artinya hilangnya kucing isteri gubernur dengan berita Blue Energy yang menyita berhalaman-halaman detik.com, misalnya. Atau apalah pentingnya hilangnya seekor kucing dengan urusan kenaikan BBM yang mencekik rakyat itu.Mungkin begitu logika orang media.
Sejak reformasi, media yang konon menjadi terbuka ini, terbius pula oleh gegap-gempita berita politik. Verifikasi yang dalam tentang penyalahgunaan dana pembangunan, dalam laporan investigasi panjang pun minim.
Saya sering dikritk bila menulis jangan sinis. Tetapi sebagai reporter saya memang berusaha belajar untuk paling tidak mendeskripsikan, memverifikasikan. Bila dalam paparan itu kemudian ada nada sinis, biarlah deskripsi yang menuturkan, bukan sosok reporter yang sinis.
Bentuk penulisan media Riau di atas yang sesungguhnya urusan personal seseorang dengan binatang kesayangannya, sudah dimelencengkan ke ranah lain. Saya kira inilah imbas sebuah jurnalisme yang tumbuh dalam era reformasi, yang kurang berorientasi reportase, yang oleh salah satu pendiri PWI-Reformasi, Budiman S. Hartoyo - - mantan radaktur senior TEMPO - - disebutnya sebagai jurnalisme ludah: "Hanya kutip sana, kutip sini, tanpa ada reportase."
Dari sebuah reportase, tulisan menjadi berbeda. Bisa jadi jika direportase yang dalam, jika kehidupan pemimpin di trias politika kita kini seakan "kejam" kepada rakyatnya, termasuk menaikkan hargan BBM, terindikasi karena mereka semua tidak punya dan tidak suka memelihara binatang peliharaan.
Coba cek!
Mungkin mereka semua tidak pernah lagi mengelus kucing, mengelus anjing, menyiulkan perkutut.
Ingat, rasa, perhatian, sentuhan, bisa didapat seorang anak dari kecil, jika ia memiliki binatang peliharaan. Laku yang sekaligus mendekatkan kepada alam, menjadikan berperasaan ke sesama, bukan sebaliknya: menjadi raja tega, macam menaikkan harga BBM itu!
Iwan Piliang, presstalk.info
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch format to Traditional
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
__,_._,___








0 comments:
Post a Comment